“Kenapa sih semua pacar aku ga bener-bener cinta aku, ran?” Analisa dari sudut pandang teknik sampling

@Harvest Denpasar. Kalau mau menyimpulkan cake harvest enak atau tidak, gunakan prinsip sampling : semakin banyak mencoba cake-nya semakin mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Photo taken by Nikon1 J3

@Harvest Denpasar. Kalau mau menyimpulkan cake harvest enak atau tidak, gunakan prinsip sampling : semakin banyak mencoba cake-nya semakin mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Photo taken by Nikon1 J3

Kamis, 15 Oktober 2015; Pk 22.25

Sudah sekitar 7 minggu saya mengikuti pendidikan Magister Psikologi Profesi Klinis Anak di UI dan ini adalah tulisan pertama saya. Ditengah deadline tugas-tugas (jamak), hati saya mengarahkan otak dan tangan saya untuk membuka blog dan menulis. Thanks to my besties Nicea n Albina untuk selalu mengingatkan agar kita berbagi via blogging, cheers! 

Semoga menggelitik kita semua!

 

Hari ini kelas metode penelitian kuantitatif materinya tentang sampling, saya yakin temen-temen yang pernah melakukan penelitian sudah tahu banget tentang teknik sampling, tapi apakah teknik sampling hanya diaplikasikan ketika kita mau membuat sebuah penelitian? Yuk, pikir lagi!

Pernah ga sih kita menemui pertanyaan atau curhatan dari teman-teman:

“Kenapa sih semua pacar aku ga bener-bener cinta aku, ran?”

“Kenapa hidup gue sengsara amat ya, ran?”

Atau pertanyaan yang lebih ilmiah-an dikit lah ya:

“Kenapa sih hasil survey pemilihan presiden di lembaga survey A berbeda dengan lembaga survey B?”

 

Hal-hal diatas bisa dijelaskan dengan yang namanya sampling.

Sampling refers to taking a portion of a population or universe as representative of that population or universe. (Kerlinger & Lee, 2000)

Jadi, sampling itu mengambil bagian dari sebuah populasi yang dianggap menggambarkan populasi tersebut. Kita sering menyebutnya dengan istilah, ‘ngambil sample’ atau ‘ngambil contoh’

Nah bagian yang penting dari sampling adalah :

Sampel yang kita ambil itu harus representatif, artinya menggambarkan populasi. Contoh: Ketika ada pemilihan presiden yang populasinya adalah seluruh rakyat Indonesia, ambillah sampel dari setiap TPS. Mengambil sampel dari perwakilan orang yang memilih di setiap TPS lebih representatif ketimbang mengambil sampel dari beberapa TPS saja, apalagi hanya dari TPS yang sudah jelas hanya mendukung satu pasangan calon tertentu.

Nah, kemungkinan hasil survey (quick count) Pilpres yang berbeda di 2014, bisa jadi disebabkan oleh pemilihan sample yang tidak representatif. Misalnya: lembaga survey “A” cenderung lebih banyak mengambil sampel di daerah yang mendukung salah satu pasangan calon sehingga hasilnya berbeda dengan lembaga survey “B” yang mengambil sampel dari setiap TPS.

Sekarang balik lagi ke pertanyaan awalnya, gimana cara jawab temen kita yang nanya tadi:

“Kenapa sih semua pacar aku ga bener-bener cinta aku, ran?”

(1) Masalah kejelasan kriteria variabel:

Sebelum jawab, coba tanyain dulu deh, “maksud kamu ga bener-bener cinta” itu apa sih? (Dalam hal ini, cinta adalah variabel yang mau diukur). Apakah definisi “cinta” dan “ga bener-bener cinta” nya sudah benar?

Kalau temen kita bilang : “iya dia tuh ga cinta aku, soalnya dia ga pernah mau nemenin, atau seenggaknya anter jemput aku ke mall, ke salon” (yah, kalo itu mah naik gojek aja atuh neng, haha) ATAU “iya dia tuh selalu marah kalau aku tanya, kamu lagi dimana, sama siapa, ngapain?” (calon polisi nih kayanya, haha)

Pertanyaannya apakah betul indikator cinta adalah mau antar jemput dan selalu laporan? Atau cinta adalah kesediaan mengorbankan sesuatu yang lebih penting dan ada di saat sulit?

(2) Masalah sampling yang tidak representatif:

Apakah kita sudah mengambil sampel yang menggambarkan populasi sehingga kita bisa mengambil kesimpulan yang tepat?

Kalau temen kita bilang: “iya dia tuh selalu marah kalau aku tanya, kamu lagi dimana, sama siapa, ngapain?”

Terkadang kita berlebihan dengan menggunakan kata ‘selalu’. Apakah benar demikian? Kata ‘selalu’ seolah kita telah mengambil data semua kejadian (populasi) padahal sebenarnya hanya mengambil beberapa contoh kejadiaan (sample).

Apakah dia selalu marah kalau ditanya seperti itu? Atau mungkin karena kita bertanya di saat yang tidak tepat? Kita bertanya ketika dia sedang di kantor (perlu dicatet : orang di kantor lagi kerja dan sibuk, terkadang pertanyaan di atas tidak masuk akal)

So kalau kriteria tidak tepat dan sampling tidak representatif, bagaimana mungkin kita bisa menyimpulkan pikiran kita benar? Wong, cara pikir kita kok yang salah, haha..

Nah, buat next question :

“Kenapa hidup gue sengsara amat ya, ran?”

Coba buat PR temen-temen yang baca blog ini di rumah ya:

  • Sudah tepatkah kriteria ‘sengsara’ yang dimaksud? (jangan lebay nih ya, haha)
  • Sudah representatif kah sampling kita? (jangan sampai mengambil sample ‘sengsara’ hanya dengan mengingat masa sulit dan mengabaikan betapa sering anugerah Tuhan tercurah buat kita)

So, sebelum kita menyimpulkan segala sesuatu yuk pikirin dulu dua hal itu, kriteria dan sampling

Thank you buat Mas Dewa yang sudah mengajar dengan penuh filosofi hari ini. Mengajar sampling tidak hanya memberikan pengetahuan teknis yang bertebaran di semua buku namun mengajarkan esensinya, filosofinya.

Cheers !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s