Berpikir Sejenak atau Beri Kursi Listrik Hukuman Mati

Seberapa sering kita mengambil keputusan tanpa berpikir atau menggali data?
Seberapa sering kita melabel atau mencap orang lain tanpa mencari data?

Pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami atau kejadian-kejadian yang kita sering amati secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir dan mengambil keputusan. Pengalaman dan kejadian tersebut juga yang sering membuat kita berdiri teguh pada sebuah posisi dalam menghadapi sebuah masalah atau memandang sebuah kejadian. Sungguh, tidak berpikir kritis.

Baru-baru ini saya diminta untuk menyaksikan sebuah film berdurasi 1,5 jam oleh Mr. Jeffry. Film tersebut berjudul 12 angry men. Film hitam putih, keluaran tahun 1957. Setting yang sederhana namun kaya makna!

Para pemeran "12 Angry Men"

Para pemeran “12 Angry Men”

Dalam film tersebut dikisahkan 12 orang juri yang harus memutuskan sebuah perkara pengadilan, seorang anak berusia 14 tahun yang diduga membunuh ayahnya. Film tersebut tidak menceritakan sesi persidangan, namun kita bs memahami dugaan dengan mendengarkan pembahasan dari diskusi 12 orang tersebut. Keputusan yang dibuat harus disetujui semua juri. Bila diputuskan bersalah maka anak tersebut akan dihukum mati dengan kursi listrik.

Mereka memulai dengan melakukan voting, alhasil 11 dari 12 juri memutuskan bahwa anak tersebut bersalah. Seorang juri berusaha mengkritisi semua data yang diperoleh dari hasil persidangan. Ia mengatakan bahwa rasanya terlalu ganjil ketika sebuah persidangan membuat dewan juri berpikir bahwa terduga mutlak bersalah dan harus d hukum mati. Kemudian orang tersebut memikirkan kembali data-data yang ia peroleh dari persidangan. Setelah direview kembali ditemukan bahwa ternyata banyak bukti yang sebenarnya tidak terjadi sebagaimana mestinya. Setelah mengalami perdebatan panjang dan beberapa kali voting akhirnya posisi berpindah menjadi 11:1 untuk menyatakan bahwa anak tersebut tidak bersalah.

Alkisah terdapat seorang juri yang masih teguh mempertahankan bahwa anak tersebut bersalah. Ketika diminta keterangan mengenai apa yang menurutnya membuat anak tersebut merasa bersalah, ia tidak dapat mengungkapkannya. Ia hanya terus mengatakan pokoknya anak tersebut bersalah. Setelah digali-gali ternyata ia memiliki seorang anak laki-laki yang tidak patuh terhadap dirinya dan ia menggunakan hal tersebut sebagai panduan. Singkat kata akhirnya ia menyadari subjektivitas dirinya dan menyatakan bahwa anak (tersangka) tidak bersalah.

Film tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman yang kita alami membuat kita berpegang teguh pada suatu pola pikir, atau pendapat. Subjektivitas kita meningkat dan kita tidak ingin mengkritisi data. Dalam adegan lain terlihat bahwa kita tidak mau berpikir kritis karena berbagai alasan, misalnya terburu-buru (karena ingin melakukan kegiatan lainnya), mudah dipengaruhi orang lain, tidak enak atau takut kalau berbeda pendapat dengan orang lain.

Nah seberapa sering kita masih terjebak dengan subjektivitas diri kita? Selamat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pekerjaan.. Ingatlah bahwa setiap hal yang keluar dari mulut kita maupun keputusan yang kita buat, dapat berdampak besar bagi orang lain..

Selamat berpikir kritis!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s