Tertinggal : Kacamata Penumpang Transportasi

Sebagian penyedia jasa transportasi memutuskan untuk demo dengan berbagai alasan yang kemungkinan besar intensinya adalah mempertahankan pelanggan. Di sisi lain, setelah pulang menonton film malam ini, saya dan teman-teman harus berjalan kaki untuk mencari layanan transportasi yang biasa disediakan oleh mereka.. Realita selalu unik bukan?

Mendengar kabar unjuk rasa taksi dan transportasi online sempat membuat saya berpikir, apa yang sebenarnya diperdebatkan dan apa ya solusinya? Akhirnya sampai pada kesimpulan, “aku mah apa atuh..” Engga ngerti-ngerti juga baca urusan ekonomi, hukum dan informasi teknologi. 

Akhirnya aku menyadari, aku konsumen mereka. Mungkin ini saatnya melihat dengan kacamata penumpang transportasi, yang mungkin sering (di)tertinggal di kursi belakang.

Manusia yang unik selalu membuat keputusannya dengan pola pikirnya sendiri. Hal ini membuat beberapa ilmuan memiliki pandangan berbeda. Pandangan pertama beranggapan bahwa tindakan manusia hanya dapat dimaknakan atau dijelaskan (explained), sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa tindakan manusia yang dapat dijelaskan harusnya juga dapat diprediksi (predicted) sehingga dapat dikontrol (controlled). Si rani pandangannya apa? Si rani pandangannya ke arah martabak, haha.. Engga deng.. Bagi saya, satu hal yang pasti, setiap tindakan manusia bisa dijelaskan, setidaknya ketika manusia tersebut bertindak, kita bisa tanyakan alasannya. Oke, jadi cukup ya penjelasannya, saya menulis karena saya penumpang moda-moda transportasi tersebut yang memilih mereka secara sadar, so saya bisa menjelaskan why saya dan beberapa teman memilih suatu moda transportasi.

Icek Ajzen, Professor Social Psychology Di Univ. Massachutes, mencetuskan theory of planned behavior. Teori ini berlaku untuk perilaku yang melibatkan proses kognitif, seperti berpikir hingga mengambil keputusan. Teori ini berupaya menjelaskan intensi (niat) individu dalam berperilaku, baru sampai niat belum sampai benar-benar berperilaku (show the actual behavior). Menurutnya niat individu memilih didasari oleh tiga komponen, yaitu sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), norma subyektif (subjective norm) dan persepsi diri akan kemampuannya memilih perilaku tersebut (perceived behavioral control). 

  

Semakin positif Attitude toward behavior (ATB), subjective norms (SN) dan perceived behavioral control (PBC), maka semakin tinggi niat untuk memilih perilaku (misalnya memilih moda transportasi) dan semakin tinggi kemungkinan menampilkan perilaku tersebut.

Apa yang kamu cari kalau pesan moda transportasi? Pasti jawabannya beda-beda, kemungkinan beberapa pertanyaan utamanya adalah: “aman ga?”, “mahal ga?”, “gampang ga mesennya?”, “emang udah pernah coba?”

Nah pilihan saya terhadap moda transportasi bisa dijelaskan oleh teori dan pertanyaan tadi. Saya sering menggunakan uber, grabcar dan taksi, bagi saya ketiga transportasi tersebut aman (ATB +), teman dan keluarga saya juga menyatakan bahwa moda transportasi manapun aman (SN +) dan saya yakin bisa menjaga keamanan diri saya saat menggunakan transportasi manapun (PBC +). So, niat saya akan positif untuk memilih moda manapun. 

Dari segi harga, “mahal ga ?”, saya punya niat yang berbeda-beda terhadap pilihan moda transportasi tadi. Saya kadang kesulitan membandingkan harganya, namun pada dasarnya manusia selalu ingin kepastian (certainty). Bagi saya grabcar yang paling diuntungkan karena menawarkan harga yang pasti (ATB +), uber menawarkan harga kisaran (ATB cukup +) sedangkan taksi biasanya hanya bisa dilihat melalui argo (ATB agak +). Kalo gitu, si rani suka supir yang tembak harga didepan? Mm engga sih, soalnya seringnya ngasih harga ga keruan (ATB -). Temen yang sering pakai transport online, orang yang aku percaya, sering bilang transport online lebih murah minimum tarifnya kalo dipesan (SN +). Aku yakin bisa bayar kalo dari awal dikasi tau harus bayar berapa (PBC +). So, kali ini niat saya menggunakan transportasi online menjadi lebih tinggi dari pada menggunakan taksi. *btw ini cuma aku yang baru tahu, atau temen-temen juga, bahwa minimum pembayaran untuk order taksi bluebird hanya rp 20.000 sekarang, dulu rp. 40.000. Dengan info ini, saya merasa taksi bisa jadi transportasi yang murah juga (ATB +).

Dari segi kemudahan pemesanan, ini hal yang menarik. Aku sering kehabisan pulsa tapi masih ada kuota atau ada wifi. That’s why, i think online order application is better than phone call. Bicara soal pemain besar transportasi, seperti uber, grabcar dan bluebird, semuanya telah memiliki aplikasi pemesanan online. Pertanyaaannya seberapa mudah (user friendly) aplikasi tersebut digunakan. Saya belum bisa mereview aplikasi bluebird karena masih dalam proses aktivasi. 

Yup, kira-kira itu pertimbangan dari kacamata saya, seorang konsumen aktif, rata-rata 2x sehari kalo ga nebeng temen haha.. Harapannya dengan memahami ini, penyedia jasa mendapat satu data konsumen yang mungkin menghasilkan insight, semisal mencoba memberikan estimasi biaya perjalanan, lebih dekat dengan konsumen via email, iklan online, atau sms broadcast bahwa ada perubahan harga atau mungkin mereview kemudahan aplikasi online. Semoga bila inti permasalahannya adalah mencari penumpang, kita bisa sama-sama selesaikan dengan tepat, gain insight and take action. 

Selamat tidur, nanti pagi saya nebeng temen, ah.. Haha..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s