Kalau mikirin soal anak

Mungkin saya memang seorang yang suka overthinking (thank you julukannya ya), belum punya anak bahkan belum menikah tapi suka mikirin, anak saya mau jadi apa, haha!..

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dikelilingi orang-orang yang lebih mengedepankan rasa ketimbang pemikiran logis, membuat saya sering terkagum dengan pikiran-pikiran logis rekan-rekan saya. Tidak semuanya dirasa namun semuanya ditelaah. Alhasil, saya sering sekali bilang, “kalau sudah besar, anak saya jadi engineer saja”.

Kenapa engineer sih ran? ya sesederhana saya pikir orang engineering pola pikirnya logis, runut, sistematis. Walau saya yakin sebenarnya profesi apapun ya bisa kok kalau mau mengedepankan pikiran logis diatas rasa atau sebaliknya, haha..

Tetiba saya jadi teringat, beberapa bulan lalu saya sempat membuat tulisan yang saya kutip dari Buku Bakat Bukan Takdir karangan Mas Bukik Setiawan dan Mas Andrie Firdaus. Ini yang saya pelajari dari buku tersebut:

DSC_7439

Riro, anak pertama kakak saya. Maret, 2016.

Anak hidup pada zamannya, zaman yang berbeda dengan zaman orang tuanya. Laju perubahan pada zaman lalu terasa berjalan lebih lambat dibandingkan laju perubahan di masa kini dan mendatang. Tantangan seperti terbatasnya sumber daya alam, berlimpahnya pilihan untuk memenuhi kebutuhan dan lajunya perkembangan teknologi mewarnai masa ini dan masa yang akan datang. Pengarang menunjukkan ada 6 hal yang setidaknya dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan zaman kreatif:

  1. Bukan lagi banyaknya pengetahuan, tapi kemampuan belajar. Pengetahuan lama berganti pengetahuan baru. Hanya dengan kemampuan belajar, anak dapat beradaptasi dan mengikuti perubahan. Tentunya kemampuan belajar mandiripun menjadi hal yang penting.
  2. Belajar bukan lagi mengunduh pengetahuan tapi mengunggah mahakarya. Belajar terjadi tidak hanya saat kita menerima pengetahuan namun juga saat kita memanfaatkan pengetahuan.
  3. Bukan lagi memilih profesi tapi mengembagkan kekuatan diri. Profesi tidaklah abadi, zaman ini siapa saja bisa menjadi apa saja. Fokuslah pada pengembangan kekuatan diri. Sesuaikan juga pengembangan kekuatan diri dengan tantangan zaman.
  4. Bukan hanya kemampuan beproduksi tapi juga kemampuan berkreasi. Ada banyak pilihan, oleh sebab itu penting untuk bisa berkreasi, mencipta produk yang bermanfaat bagi penggunannya.
  5. Bukan lagi memaksakan keseragaman tapi hidup di tengah keberagaman. Kehidupan semakin datar dan semakin terhubung. Semakin banyak dan sering keragaman akan diamati oleh anak kita, persiapkan mereka untuk menerima dan beradaptasi.
  6. Bukan lagi kemampuan berkompetisi yang utama tapi kemampuan berkolaborasi. Kompetisi menghasilkan pilihan terbatas sesuai kiteria kompetisi. Kolaborasi menghasilkan beragam kemungkinan, beragam kreasi.

Jadi mungkin daripada menentukan harus jadi engineer anaknya, ya Ran 🙂 mendingan coba pikirin bagaimana agar anaknya nantinya mampu memiliki  keenam  kompetensi diatas, haha.. Berasa lagi ngerjain project competency development!

Selamat membantu anak untuk menghadapi tantangan zaman kreatif, ayah, ibu, calon ayah, calon ibu, kakak, adik, semua !

photo is taken using Nikon 1 J3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s