Menerima rasa

Striving to be perfect – or always perfectly happy – will only set you up for frustration and failure. (Emotional Agility by Susan David)

February 2017

Hai! lama banget ga ketemu.. Sore hari ini Bogor hujan, memakluminya karena memang benar ia memahami dirinya sebagai kota hujan, ia memberikan hujan dan segala sensasinya tuk penghuni dirinya..

Aku mau cerita, beberapa hari lalu boss kantorku mengajukan pertanyaan yang ga tau sembari iseng atau beneran, “seberapa besar kamu menerima dirimu seutuhnya?”. Pertanyaan yang bikin bengong sepersekian detik dan langsung saya jawab, “belom bisa”.. Entah gimana, banyak hal yang aku rasa belum bisa aku terima .. Banyak rasa yang suka bikin sesek yang sekalipun aku berusaha mengontrolnya tetep aja ya bikin repot..

Percakapan kami berlanjut hingga ia menyarankanku membaca buku Emotional  Agility karangan Susan David – seorang professor psikologi di Harvard yang banyak riset soal emosi; di HBR karyanya disebut next era after EI. Cari tau tentang emosi emang ga pernah ada abisnya sih, seru banget.. Kali ini sensasinya menusuk-nusuk.. Haha!

Buku Emotional Agility

Emosi itu milik manusia, engga jahat kok..

Seperti yang kita tau (aku yakin kalian udah pernah denger ini), semua manusia punya emosi. Senang, sedih, marah, jijik dan takut adalah emosi dasar manusia. Emosi-emosi tersebut membantu kita bertahan hidup. Inget film Inside Out? Emosi jijik (disgust) bantu kita supaya ga keracunan, dll.. Semakin dewasa emosi kita makin kompleks, kita bisa merasa kecewa karena kita menaruh harap namun sedih karena tak mencapai harap tersebut.. Rasa tersipu karena kita senang namun malu menghadapi suatu situasi.. Emosi menjadi clue untuk kita bisa memberikan response pada dunia luar diri kita.. Sayangnya kita seringkali menggunakan autopilot untuk merespon rasa, tanpa sungguh-sungguh melibatkan pikiran untuk meresponnya.

Memberi ruang bagi diri untuk merespon perasaan 

Hal yang menarik dari pengantar buku ini adalah bahwa saat kita berusaha mengendalikan perasaan maka yang terjadi biasanya adalah frustasi, so susah.. Bayangkan betapa sulitnya seseorang yang merasa kehilangan harus mengendalikan rasa kehilangannya dan menjadi manusia yang bersyukur pernah memiliki sesuatu.

Dalam buku ini, Susan memberi saran untuk kita menerima perasaan kemudian baru memberikan ruang bagi pikiran kita untuk bergerak sesuai dengan tujuan besar hidup kita.. Beri kesempatan diri kita untuk mengecap setiap rasa, yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, yang menyakitkan atau memberi kebahagiaan… Beri kesempatan.. Setelah itu, tarik diri kita untuk berpikir tentang perasaan itu sendiri 🙂

Selamat menikmati setiap rasa, jangan tepis..

Berefleksi, biarkan pikiran memikirkan soal rasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s