Kania dan Es Krim-nya

“Lihatlah kapal api yang sedang berlayar, asapnya yang putih mengepul di udaraaaa…” Kania bernyanyi sambil tiduran tengkurap diatas karpet kesayangannya. Tangannya tak berhenti bergerak, menggambar sesuatu yang disukainya, es krim! Ia membubuhkan namanya ‘Kania’ dengan bangga hasil pelajaran di kelas 1 ini.

“Kaniaa…jadi mau makan yang cookies?” Mama menengok Kania yang sedang asik dengan aktivitasnya. 

“Mama Tari, Kania mau!” jawab Kania sambil membalikan badan menoleh ke arah ibunya. 

Kania melanjutkan nyanyiannya hingga terdengar suara musik yang tidak asing..

“Es grim!” teriak Kania yang lantas berlari ke kamar tidurnya dan terengah-engah menghampiri mamanya di dapur sambil memeluk toples uang tabungannya. “Ma…Kania…mau beli es…grim…pake ini yah” pintanya sambil terengah-engah.

Mama tersenyum ke arah kania, sambil berkata, “sungguh mau?” terakhir kali Kania makan es krim, mama melihat Kania kesakitan, karena dinginnya es krim menyakiti giginya.

“Sungguh ma ya ma, please….” pinta Kania sambil melongok ke arah luar, memastikan tukang es belum berjalan jauh.

“Oke” sahut mama sambil tersenyum, ia tahu anaknya yang berpendirian kuat itu tak bisa ditahan, lagi pula giginya tak akan sakit lama. Mama hanya tersenyum karena terakhir kali Kania pernah berkata bahwa ia tak mau makan es krim untuk beberapa waktu kedepan karena ternyata es membuat giginya sakit. 

“Maa, bapak es grim bilang jangan lupa minum air putih kalau sudah makan es grim” teriak Kania sambil menjilat es nya dan memicingkan mata sanking dinginnya. 

Meski Kania sudah belajar menulis es krim, tetap saja ia menyebutnya ‘es grim’ persis sepertiku, pikir mama Tari sambil tersenyum. 

Mama Tari memasukkan kue dalam panggangan. Ia menaruh sarung tangannya kemudian memperhatikan putri kecilnya yang duduk diatas kursi meja makan. Kania nampak senang, makan es krim dengan mata berbinar. Sesekali ia menengok pada mama sambil tersenyum dan mengangguk-angguk, berharap mama memahami rasa enaknya es krim itu. Tak lama, kania hanya memegangi es krim sambil bengong menatapi taman belakang rumahnya yang terlihat dari meja makan. Es nya mulai meleleh ke tangannya. Kania memindahkan es krim ke tangan yang satunya kemudian menjilat tangan yang terkena lelehan es krim, begitu seterusnya. 

“Kania kenapa?” Mama merangkul kania sambil mencium kepala kania dan menatapnya tepat di matanya. 

“Maaaa…..” Kania menaruh es krim di gelas terdekat yang ada di meja makan lantas memeluk leher mamanya dan berbisik, “sakit ma giginya, tidak enak…” 

Mama mencium pipi Kania sambil berkata, “Kania…kania…ni air putihnya nak…sudah?” Sudah merujuk pada sudah kapok kah kania makan es krim yang sering menyakiti giginya. 

Kania tersenyum, “abis kania pengen ma, es krimnya selalu enak tapi bikin gigi kania sakit, biasanya gigi kania ga sesakit ini”

Mama merangkul kania, sambil ikut bengong menatap taman dan berpikir…..mama tahu nak, bagaimana rasanya menginginkan sesuatu yang meski setelahnya selalu membuat mama merasa tidak nyaman, namhn tetap mama inginkan.. Mama merangkul kania lebih kuat, hingga kania akhirnya terlelap dipangkuan mama dan terbangun dengan suara ‘ting’ dari mesin pemanggang. 

“KUE!” tatap kania ke arah mama yang sedang memegang buku tangannya. 

Sebuah cerita pendek tuk refleksi : kisah kania dan mama tari. Cerita oleh Ranilia.

Advertisements

One response to “Kania dan Es Krim-nya

  1. hmmmm, mungkin bisa dikasih di bawahnya. Apa yang Kania plejari kira-kira dari peristiwa itu? Apa yang kamu pelajari juga?

    Nice Story lho 🙂 mau ceritain ini ke ose, tanpa alat peraga (es grim maksudnya) hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s